EMPAT LAWANG – Bau sengit sisa kebakaran masih menyengat di udara Dusun 2, Desa Lingge, Kecamatan Pendopo Barat. Di atas tanah yang kini menghitam, tempat enam rumah rata dengan tanah dan tiga lainnya porak-poranda, duka mendalam menyelimuti warga. Namun, pada Kamis (23/4/2026), kehadiran jajaran pimpinan daerah membawa secercah harapan bagi para korban.
Kehadiran Pemimpin Tanpa Sekat
Bupati H. Joncik Muhammad, Wakil Bupati, Ketua DPRD, beserta jajaran Kepala OPD Kabupaten Empat Lawang hadir langsung menyambangi lokasi musibah. Kunjungan ini terasa lebih dari sekadar seremoni protokol; ini adalah bentuk pelukan moril bagi warga yang kehilangan harta benda dalam sekejap.
Bupati terlihat berbincang hangat dengan para bapak dan ibu korban kebakaran, mendengarkan satu per satu keluh kesah mereka di atas tanah yang masih berabu.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah, kami menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya. Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan bahwa Bapak dan Ibu tidak sendirian menghadapi cobaan ini,” ujar H. Joncik Muhammad dengan nada suara bergetar penuh haru.
Bantuan dan Pesan Keadilan
Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Kabupaten memberikan bantuan berupa sembako dan sejumlah uang tunai. Bupati menitipkan pesan khusus agar penyaluran bantuan dilakukan dengan prinsip keadilan. “ Sedikit kami membawa bantuan dan sumbangan dalam bentuk uang, mohon nanti dibagi secara adil. Adil bukan berarti harus sama, namun sesuaikan dengan berat atau ringannya kondisi yang dihadapi para korban, ” pesan Bupati sebelum meninjau titik nol lokasi kebakaran.
Trauma Didesa : Empat Kali dalam Empat Bulan
Kebakaran hebat yang terjadi pada Rabu (22/4) sekitar pukul 09.25 WIB ini menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat Desa Lingge. Pasalnya, ini merupakan musibah kebakaran keempat yang terjadi di lokasi yang berbeda dalam kurun waktu hanya empat bulan.
Data Korban Musibah:
Rumah Habis Terbakar (6 Unit): Keluarga Badri, Riski, Anang, Ropiansyah, Aliman, dan Pir. Rumah Rusak Berat/Ringan (3 Unit): Keluarga Lai Jagat, Kusnan Arip, dan Medi.
Meskipun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, kehadiran para pemimpin daerah yang mau turun langsung ke lapangan menjadi penyulut semangat baru. Bagi para korban, perhatian ini adalah kekuatan untuk bangkit kembali dan menata masa depan dari balik puing-puing sisa “si jago merah”.
