
Lahat, – Pernyataan Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih SH MH bahwa perempuan saat ini tidak hanya dibutuhkan di ‘dapur, sumur dan kasur’, jadi perhatian dalam Podcast PWI Lahat, yang dipandu Ketua PWI Lahat, Ehdi Amin beberapa waktu lalu.Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun penuh makna itu, Widia terang-terangan mengungkapkan perjalanan hidup dan politiknya, hingga akhirnya menduduki kursi Wakil Bupati Lahat, mendampingi Bupati Lahat, Bursah Zarnubi.
Awalnya, Widia mengungkapkan, sang ayah, Leman C, berkeinginan agar seluruh anaknya menjadi dokter, sehingga bisa berikan manfaat bagi masyarakat. Namun jalan hidup, membawa Widia Ningsih ke arah berbeda.”Saya memang dari dulu lebih suka berinteraksi langsung dengan masyarakat. Setelah lulus SMA sempat ikut tes PNS, tapi tidak lulus. Itu agak aneh. Tapi dari situ saya berpikir mau ke mana, akhirnya memutuskan kuliah ambil jurusan hukum,” ungkap Widia.
Mendengar cerita tersebut, Ehdi Amin menilai, perjalanan Widia menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.”Kalau melihat perjalanan Bu Widia, justru kegagalan jadi PNS mala mengantarkan ke posisi hari ini yang lebih strategis. Mungkin kalau lulus saat itu, ceritanya akan berbeda,” ujar Ehdi.
Widia pun menyebut, bahwa hidup memang penuh misteri. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 hukum, dirinya sempat bingung menentukan arah masa depannya. Namun momen Pemilu Legislatif di Kabupaten Lahat buat Widia jadi tertarik masuk ke dunia politik.Berbekal pengalaman berinteraksi dengan masyarakat, serta dukungan Ayah, Ibu, saudara dan keluarga, Widia akhirnya memilih jalur politik sebagai tempatnya mengabdi ke masyarakat.
Satu periode sebagai wakil rakyat, sudah dilaluinya. Ia pun memilih meneruskan pengabdian dan kembali terpilih kembali sebagai anggota DPRD Lahat dari partai Perindo periode 2024-2029.Hal itu rupanya, buat Ehdi Amin penasaran dengan alasan Widia Ningsih meninggalkan posisi sebagai anggota DPRD Lahat yang sudah pasti, untuk mengambil risiko yang lebih besar di Pilkada Lahat.
“Artinya saat itu Bu Widia sebenarnya sudah aman sebagai anggota DPRD. Apa yang membuat berani mengambil keputusan maju ke eksekutif?” tanya Ehdi.
Menjawab pertanyaan tersebut, Widia mengaku, sebelum memutuskan maju di Pilkada, ia bersama tim telah melakukan pemetaan politik. Melihat seberapa besar respon masyarakat dengan sosok pemimpin perempuan, dan seberapa besar persentase kemenangan.”Setelah dipetakan, ternyata peluang itu ada. Tapi yang paling penting, keinginan saya maju di Pilkada Lahat itu, agar bisa berikan bantuan lebih untuk masyarakat Kabupaten Lahat,” katanya.
Sebab kata Widia, saat berada di DPRD, banyak persoalan masyarakat yang berhasil diperjuangkan. Namun kewenangan untuk mengeksekusi berbagai program, tetap terbatas.”Di legislatif kita bisa memperjuangkan. Tapi untuk eksekusi banyak hal masih terbatas. Karena itu, saya ingin berada di posisi yang bisa mengeksekusi, memberi pertolongan lebih besar kepada masyarakat,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Widia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pembangunan daerah. Menurutnya, perempuan memiliki kemampuan melihat dan merasakan persoalan masyarakat dari sudut pandang yang berbeda.”Kepada perempuan muda di Kabupaten Lahat, jangan takut bermimpi besar. Jangan pernah patah semangat untuk memperjuangkan hak dan cita-cita. Perempuan juga bisa menjadi inspirasi dan membawa perubahan,” pesan Widia Ningsih diakhir Podcast bersama PWI Lahat.
Sebagai penutup, Ehdi Amin menyampaikan, pesan yang disampaikan Wabup Lahat itu merupakan ajakan bagi perempuan muda di Kabupaten Lahat, agar berani tampil, berkompetisi dan tidak menyerah mengejar cita-cita.”Dari gagal menjadi PNS, terpilih jadi anggota DPRD, hingga akhirnya duduk di kursi Wakil Bupati Lahat, menunjukkan bahwa jalan pengabdian tidak selalu berjalan lurus. Terkadang kegagalan justru jadi pintu menuju kesempatan yang lebih besar,” sampai Ehdi Amin menutup Podcast perdana PWI Lahat. (*)
