
Lahat – Siswa salah satu SMAN di Kikim Selatan Kecamatan Kikim Selatan Kabupaten Lahat, mengeluhkan adanya pengutan di sekolah mereka, yang dilakukan oknum guru. Dikatakan P dan D, siswa Kelas 2 IPS, pengutan yang dilakukan itu ada yang berupa uang, barang dan materai, yang nilainya dianggap memberatkan. “Iya betul pak, yang belum ini ialah pungutan untuk uang Class Meeting, kata guru kami inisial M, guru PPKN sekaligus Waka Kesiswaan, uang Rp 15.000 sumbangan per siswa itu untuk hadiah lomba Class Meeting, namun hadiahnya adalah Ciki atau makanan ringan, mangkok plastik dan sejenisnya, yang nilainya sangat murah sekali,” ujar dia Kamis (25/06/2026).
Ketika ditanya, siapa saja yang dimintai uang itu, mereka berdua menjawab, siswa kelas satu dan dua, yang jumlah mencapai 200 orang. “Kalau kami tidak mau sumbangan, akan dimarahinya, kami dikata – katai oleh bapak itu,” ujar dia. Bukan hanya itu saja, para siswa juga mengeluh adanya hukuman yang diberikan kepada siswa, namun ditebus dengan membeli barang. “Kalau kami Remedial karena nilai kami kecil, kami disuruh beli buku tulis satu lusin, ada juga beli sapu, pel, kotak sampah, kadang bayar Rp 85.000, pokoknya banyak yang kami beli dari ini itunya,” ujar dia.
P dan D juga mengaku, bukan hanya mereka berdua saja yang sering mengeluh, rata – rata siswa mengeluh karena intensitas pungutan yang dibalut dalam berbagai bentuk. Terlebih, mereka juga disuruh membeli materai sebanyak 4 hingga 5 buah, ditujukan untuk membuat surat perjanjian, namun nyatanya surat perjanjian itu tidak pernah ditunjukkan kepada siswa. “Kalau kami bermasalah, kami disuruh beli materai, materai itu kata pak M, untuk ditanda tangani pada surat perjanjian, agar kami tidak mengulangi kesalahan kami. Namun suratnya tidak pernah kami tanda tangani, kemudian kadang materai yang kami kumpulkan, justru dijual lagi oleh pak M ke siswa lain yang kena hukuman, dengan harga Rp 15.000 per buah,” ungkap dia. P dan D mengaku, sangat berat hati dan merasa kasihan dengan orangtua mereka, karena siswa terpaksa meminta kepada orangtua ketika ada pungutan dari sekolah.
“Saya malu dengan orang tua saya, ibu saya cuma upahan sehari hari untuk mencari uang, justru orangtua saya juga terbebani kalau saya minta terus untuk sumbangan itu tadi. Saya sangat terberatkan akan banyaknya yang harus kami bayar ini pak,” ungkap dia. Masih kata mereka, guru M juga sering berkata kasar kepada murid. “Kalau ngomong kasar, sering kami dengar. Kalau pak M razia rambut, kami takut, karena diguntingnya sembarangan, kami kan jadi malu,” ucapnya.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Ketua Komite sekolah tersebut, Taslim menegaskan, pihaknya tidak pernah terlibat akan pungutan apapun dari sekolah. “Pungutan apapun itu, tidak pernah melibatkan komite, kalau itu memang benar adanya, itu diluar tanggung jawab kami sebagai komite,” tutur dia.
Baik siswa dan komite sekolah berharap, kepala sekolah harusnya mengetahui dan bertindak tegas, apabila terjadi pungutan sekecil apapun dan dalam bentuk apapun, sebab sekolah tidak diperkenankan melakukan pungutan yang tidak mendasar, dan justru memberatkan para siswa dan orangtua siswa.(Val)
